Ibu adalah semangat bagiku karena ia
selalu memberikan motivasi perjuangan bagiku. Mengapa bisa aku katakan bahwa
ibu memberikan motivasi perjuangan bagiku, karena melihat kerja kerasnya dalam
menghidupi kami sebagai anaknya begitu dia memberikan segalanya hanya untuk
kami sebagai anaknya. Dan itu membuatku merasa berhutang budi terhadapnya. Itu yang dapat saya lihat, bagaimana ketika
aku masih dalam buaian ibuku, bagaimana lagi dengan perjuangannya yang luar
biasa itu. Ibuku bagaikan malaikat dalam hidup ku penyelamat dan penyemangat
hidup ku. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam kesehariannya ibuku bekerja
sebagai petani karet, selain itu ibuku juga beladang ia tidak kenal lelah demi mencari nafkah untuk keluarga membantu bapak. Sesungguhnya
besar perjuangan ibuku untuk membesarkan kami anaknya, tetapi kami sebagai anak
belum ada menunjukkan baktinya seorang anak terhadap ibunya. Ibu ku bernama
Juna lahir di Sebalo, 03 Desember 1960. Sekarang usianya sudah 60 tahun tetapi
ibuku masih saja banting tulang. Kondisi
tubuh ibuku sekarang sudah tidak seperti dulu lagi sekarang beliau
kelihatan kurus porsi makannya sekarang pun jauh berbeda dari dulu. Ibuku
berkulit hitam biasa, orangnya pengertian dan baik hati aku sangat menyayanginya.
Ibuku orangnya tidak cerewet dan selalu merasa cukup dengan segala bentuk
keadaan serta tidak berlebihan dalam berpenampilan maupun hal-hal yang lainnya.
Dimataku ibuku sungguh sempurna, walaupun memang manusia diciptakan ada kekurangan dan ada pula kelebihannya. Meskipun sekarang ibuku kalau dilihat dari fisiknya sudah mulai mengurang, terutama pendengarannya. Karena biasanya ibuku kalau diajak ngomong dia tidak bisa terlalu pelan apalagi kalau lewat Hp berhubungan pendengarannya sudah tidak terlalu berfungsi dengan baik. Mungkin dikarenakan faktor usia yang sudah lanjut, jadi pendengarannya pun sudah makin berkurang. Ibuku selagi mudanya dulu belum berkeluarga badannya gemuk, tingginya sedang (hanya dapat diperkirakan berhubungan tidak tahu pasti berapa tinggi badan ibuku karena hanya melihat fotonya yang sudah sangat lama) dan hidungnya tidak terlalu mancung. Ibuku orangnya pekerja keras, istirahatnya kurang. Terkadang kami sebagai anak sering mengingatkan ibu agar jangan terlalu memaksakan diri, karena kalau memang rezekinya sudah ditakdirkan segitu ya segitu lah dia. Karena akupun tidak tahu apa yang ada di pikiran Ibuku sehingga beliau harus banting tulang. Mungkin Ibuku pikir, kalau tidak dikerjakan siapa lagi yang mau mengerjakannya. Karena biasanya aku mendengar dari ucapan ibuku sendiri berkata seperti itu. Di satu sisi aku tidak tega melihat ibuku harus bekerja keras, tetapi disisi lain aku mau mengerjakannya karena aku pun belum terlalu paham atau berpengalaman. Nanti kalau salah aku takut akan mengecewakan ibuku. Ibuku dalam pekerjaannya kalau belum selesai belum ia berhenti, maksudnya setiap pekerjaan itu ibuku harus menyelesaikannya tanpa bergantung pada orang lain. Itulah aku merasa sangat bangga kepada ibuku karena demi kami anaknya ia harus berjuang dan bekerja keras seperti itu. Dan tidak mau melihat bapak bekerja sendiri, ibuku selalu ada buat bapak aku sangat senang melihat ibu dan bapak ku dengan rukunnya mereka bekerja. Terkadang kalau ibu melihat bapak lagi sedang sakit atau kurang enak badan ibuku harus mengerjakan pekerjaan bapak meskipun tidaklah sama pekerjaan perempuan dengan laki-laki. Tetapi ibuku selalu berusaha yang terbaik untuk bapak. Ibuku kalau soal pekerjaan tidak memilih asalkan ia bisa mengerjakannya tetap ia lakukan semampunya. Bapak sangat beruntung mempunyai istri yang sangat baik dan pengertian seperti ibu.
Karena pekerjaan ibuku sebagai petani
karet dan ini mata pencaharian keluarga. Jadii kalau cuaca bagus tidak hujan ibuku
subuh-subuh sudah bangun sekitaran jam setengah dua atau jam dua siap-siap
pergi noreh kami bilang. Biasanya kalau sudah musim kemarau air getahnya
berkurang, ditambah lagi sering diambil. Jadi kalau musim kemarau
berkepanjangan ibuku libur norehnya paling tidak mengistirahatkan air getahnya
agar tidak terlalu terkuras. Karena kalau air getahnya diistirahatkan biasanya
menambah kualitas air getah. Lain halnya pada musim hujan, karena mungkin
faktor air hujan sehingga pada musim panas kembali ketika ditoreh air getahnya
jadi banyak.
Untuk proses pembuatan jinton (air getah
yang sudah beku) sebelum bekunya, dibuatkan tempat persegi dengan panjang
sesuai keinginan ukurannya mau berapa. Tetapi kalau ukuran tempat punya ibuku
yaitu dengan panjang 90cm dan lebarnya 30cm. Setelah itu, membekukan air
getahnya menggunakan cuka sintas atau biasa kami sebut dengan cuka getah. Cuka
getahnya terlalu kuat, jadi dicampur dengan air kalau tidak dicampur pun boleh
juga tapi jangan terlalu banyak menuangkannya kedalam adonan air getah karena
kalau berlebihan tidak sesuai dengan ukuran air getahnya akan membuatnya cepat
beku dan kalau kelamaan menuangkannya ke dalam bak karet yang dibuat tadi maka
tidak jadi getah yang dicetak. Jadi biar aman makanya lebih baik dicampur air dengan ukuran sedang supaya tidak
terburu-buru dalam menuangkan air getahnya.
Untuk pendapatan sehari mungkin kisaran
4kg itupun kalau dicampur dengan jinton yang sudah beku yang nempel di pohon
karetnya yang diambil. Berhubungan pendapatan sehari tidak terlalu besar jadi
sistem pembuatan getahnya pakai tempel dua kali. Ketika mau menjualnya ibuku
harus memikul dari pondok sampai ke agen yang dalam perjalanan kurang lebih 20
menit. Biasanya kalau tidak dua keping empat keping, hasil timbangan biasanya ada lima
puluh lebih kilo dari empat keping tersebut. Sedangkan hasil dari penjualan untuk
belanja kebutuhan sehari hari, seperti : beras, gula, kopi dan keperluan
lainnya yang masih menyangkut bahan makanan pokok. Selebihnya, kalau memang
uangnya masih bersisa untuk bayar utang. Kalaupun tidak ada berarti bayar
utangnya nunggak lagi ke agen. Melihat kondisi ekonomi keluarga yang seperti
itu, memang perasaan tidak tega pastilah ada. Meskipun sekarang aku belum bisa
memberikan apa-apa kepada ibuku semoga suatu saat nanti aku bisa membahagiakan
ibuku jika ada peluang untuk ku persembahkan buat ibuku. Aku berharap agar aku
bisa memperlakukan ibuku sebagaimana ia memperlakukan aku sejak aku tidak tahu
apa-apa dan ia tidak peduli hujan ribut membasahinya demi aku anaknya.Dengan
kerja keras ibuku membuat aku semakin yakin bahwa ibuku pendorong semangat ku
untuk meraih cita-citaku meskipun aku harus berpisah dengan ibuku untuk
sementara waktu ini. Semoga perpisahan ini bukanlah perpisahan selamanya,
melainkan agar aku bisa mandiri dan mempersiapkan diri untuk membina ibuku
ketika hari tuanya nanti. Sejauh ini aku melangkah tidak ada harapan diriku
kepada ibuku melainkan aku sangat mengharapkan doa restunya. Yang itu akan
membuat ku selalu mempunyai kekuatan untuk menghadapi masa sulit ku dikemudian
hari. Dan harapanku untuk ibuku semoga ibuku selalu dalam perlindungan Allah SWT.
Amin Ya Allah.
